Sarung Trap

Setiap sholat jumat, aku selalu cari posisi shaf yan enak. Enak untuk mendengarkan khutbah dan enak untuk sholatnya itu sendiri. Lalu bagaimanakah posisi yang enak itu? Kalau menurutku ada dua syarat, yaitu kena angin dari kipas angin dan tidak duduk di belakang bapak-bapak yang menggunakan sarung.

Ya. Duduk di belakang bapak-bapak bersarung sungguh sama sekali gak enak bagiku. aku gak suka duduk di belakang bapak-bapak bersarung karena khawatir kepalaku nyangkut di sarungnya saat bangun dari sujud.

Sarung cap Gajah Bungkuk
Sarung cap Gajah Bungkuk

Kekhawatiranku bukan tanpa alasan. Biasanya di masjid-masjid yang jamaahnya banyak, pengaturan jarak sajadah terlalu dekat. Tidak ada jarak antara sajadah di depan dengan yang di belakangnya. Hal ini benar-benar bikin aku khawatir.

Selain alasan di atas, aku merasa khawatir karena aku memang pernah mengalaminya. Ya, kepalaku yang sering dipakai untuk memikirkan nasib bangsa ini pernah masuk ke sarung orang.

Kejadian itu terjadi waktu aku masih SD, kira-kira dua belas tahun yang lalu.

Aku masih ingat betul, waktu itu bulan puasa.Waktu itu, aku mau melaksanakan sholat tarawih. Musholla masih kosong, aku langsung melaksanakan shalat tarawih. Belum selesai sholat, datanglah salah seorang warga. Bapak ini penyandang tuna netra. Beliau diantar masuk musholla oleh anak kecil yang tadinya bermain di luar musholla. Sayangnya, anak ini tidak tuntas menjalankan niat baiknya mengantar Bapak tersebut. Beliau berdiri tepat di depan aku yang lagi sholat. Jaraknya terlalu dekat. Nah, di sinilah prahara itu terjadi. Bapak itu menggunakan sarung dengan agak melebar di bagian bawahnya. Jadi, waktu aku bangun dari sujud, kepalaku nyangkut di sarung gitu deh.

Bagaimana dengan sobat? Apakah Anda berminat kepalanya nyangkut di sarung?

About the author: Dwi Nur Wahyudi

Blogger, Ubuntu Enthusiast, Movie Goer, Pendekar Akademik, Hampir Ganteng, Calon Imam Rumah Tanggamu, Menantu Idaman Mamamu | Email: iyud@dnwahyudi.com

52 Comments

  1. ada ada saja sampeyan mas, tapi saya rasa lebih baik shafnya dekat daripada terlalu lebar seperti beberapa masjid jaman sekarang yg pake sajadah berkavling

  2. Hahahahhaha….
    kalau nyangkut di sarung sih belum, tapi kalau terdorong kebelakang akibat *maaf* bokong jamaah di depan menyundul kepala saya pernah 🙂

  3. Hahaha… seandainya dulu kamu ikutan Giveaway tentang sarung yang pernah kuadakan, mungkin aku akan memilih tulisan ini sebagai salah satu pemenang 😀

  4. untuk poin bertempat di dekat kipas angin saya setuju. khusus untuk poin duduk di belakang bapak2 bersarung, mungkin juga jarak shaf nya terlalu berdekatan 😀

  5. Mungkin kalo dulu bisa seperti itu Kang soale Masjid banyak yang masih belum luas. Sekarang kayaknya akan jarang kita temukan kondisi seperti itu, kan banyak lantai masjid dan mushola berkeramik yang diberikan jarak shaf yang pas dan jelas

  6. saya suka jumatan di mesjid yg ada di kampung saya, emang kalo jumatan penuh sesak meluber sampai ke majlis talim..

    rasanya belum pernah kalo kepala sampai masuk sarung orang hehe…..

  7. hehehe, saya juga pernah ngalamin gan. kepala saya pas sujud, eh sarung bapak bapak di depan nyangkut di kepala, gubrak. coba yang di depan saya itu cewek ya hahahaha *kabur*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE