Mabok Film Mandarin

Hari Minggu, sekitar sebulan yang lalu, aku gak pergi ke mana-mana menghabiskan akhir pekan (as usual). Aku di rumah aja; minum kopi pahit, makan jajanan yang dibeli dari penjual yang lewat dan nonton tv di rumah.

Menjelang siang hari, acara tv mulai membosankan. Mau nonton kanal HBO, baru ingat kalau HBO-nya udah diganti Celestial Movies sama si operator tv kabel. Jadi pasrah aja dah nonton Celestial Movies.

Semenit, dua menit, tujuh puluh menit, kok filmnya tambah lama tambah asik?!?! Aku memutuskan untuk menikmati film itu dengan serius pada saat yang bersamaan ketika si Choi menagih janjiku lewat BBM untuk mengembalikan laptop dan harddisk portable-nya yang rencananya akan kutak-atik.

Yang namanya janji harus dipenuhi. Kasihan juga orangnya mau balik ke Other Side of The Board (Balikpapan). Langsung aja dah aku mempersiapkan diri untuk berangkat mengantar laptop dan harddisk portable itu. Akhirnya aku punya alasan untuk mandi. Yey..!!

Karena lokasi tujuan delivery laptop dan harddisk portable lumayan jauh (lintas kabupaten-kota, coy!), ditambah lagi dengan ban yang tiba-tiba bocor, aku jadi ketinggalan akhir cerita dari film yang kutonton itu. Sungguh mati aku jadi penasaran.

Setelah ngecek rental DVD, akhirnya aku berhasil mendapatkan film yang bikin penasaran itu. Film itu berjudul So Young, film dari Tiongkok yang dirilis tahun 2013 lalu.

Aku kasih spoiler dikit nih ya (tapi poster film gak kupasang di pos ini karena takutnya dianggap pelanggaran hak cipta sama si Mbah. Sila cari sendiri posternya lewat si Mbah).

Film ini mengisahkan Zheng Wei (Yang Zishan), mahasiswa baru yang sengaja memilih lokasi kuliah di kota yang sama dengan seorang pria, Lin Jing (Han Geng) yang dicintainya sejak kecil. Anehnya, si pria ini gak muncul ketika ia udah sampai di kota ini.

Dari teman sekamar Lin Jing, akhirnya Zheng Wei mengetahui kalau ternyata Lin Jing sudah pindah ke Amerika. Hal ini benar-benar membuat Zheng Wei menjadi sedih. Ia tidak mengerti mengapa ia sama sekali tidak diberi penjelasan dan ditinggalkan begitu saja oleh pria yang dicintainya sejak kecil.

Kesedihan Zheng Wei tidak berlangsung lama ketika ia menyadari bahwa teman-teman sekamarnya di asrama adalah gadis-gadis yang menyenangkan. Ruan Guan (Jiang Shuying) yang sangat cantik dan menjadi idola kampus, Zhu Xiao Bei (Liu Yase) yang tomboy dan pemberani dan Li Wei Juan (Zhang Yao) yang banyak bicara dan sedikit matre.

Nah, sampai di situ aja spoiler-nya ya. Kalau penasaran sila cari sendiri filmnya di toko DVD terdekat di kotamu dan rasakan keseruan film yang penuh dengan sensasi romantisme unyu-unyu khas Asia Timur ini. Dijamin gak bakal nyesel deh. Mungkin kamu juga bakalan mengalami mabok film Mandarin ini seperti aku (saat blogpost ini diketik, tercatat aku sudah menonton sebanyak lima kali).

Setelah merasakan serunya film ini, aku jadi #mikir. Mengapa film yang seru seperti ini gak masuk ke bioskop Indonesia. Jawabannya adalah karena bioskop kita terlalu Holywood-centris (aku ragu apakah ini penggunaan istilah yang tepat 😀 ). Ya, bioskop kita terlalu banyak orang bulenya.

Hmmm.. Jadi ingat kejadian kira-kira tiga tahun yang lalu. Pada tahun 2011, film Harry Potter and The Deathly Hallows sempat tertunda penayangannya di Indonesia karena adanya protes dari para importir film barat yang tidak setuju atas ditetapkannya pajak yang lebih besar terhadap film asal Amerika.

Seandainya pajak film barat ditinggikan, mungkin film Asia bisa bersaing di bioskop kita, ya…

*) featured image diambil dari sini

About the author: Dwi Nur Wahyudi

Blogger, Ubuntu Enthusiast, Movie Goer, Pendekar Akademik, Hampir Ganteng, Calon Imam Rumah Tanggamu, Menantu Idaman Mamamu | Email: iyud@dnwahyudi.com

13 Comments

  1. Holywood-centris ini memang saya sadari sejak awal masuk kuliah… hampir setiap bulan, selalu saja ada film-film dari sana yang mejeng di xxi. Terlebih kalau musim panas, atau akhir tahun, film lokal malah tidak ada sama sekali. Ckckck

  2. Film Asia emang kuat di bagian dramanya. Kalau saya sendiri suka film mandarin jadul yg humor, khususnya yg dibintangi Stephen Chow. Soalnya dulu sering banget diputer di tipi swasta nasional.
    Emang hollywood terlalu overrated, ya karena industri film emang pemasukan tertinggi buat Amrik, makanya marketingnya kenceng.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE