Meniru Sean Patrick

Beberapa minggu yang lalu aku baca blog resminya postcrossing tentang keunikan foto-foto kartu pos yang diunggah oleh Sean Patrick. Jadi, si Sean ini memasang foto kartu pos yang dia terima sambil selfie gitu. Unik dan kreatif banget, ya..

Terinspirasi oleh Sean, aku coba untuk meniru apa yang dia lakukan. Sayangnya, waktu itu aku belum menerima sebiji pun kartu pos official postcrossing.

Sekian hari berlalu, penantian berakhir juga. Dua lembar kartu pos official datang dari tanah Eropa dan juga New Zealand. Tanpa banyak mikir, langsung aja dah aku praktikkan selfie a la Sean Patrick.

Kalau kamu baca blogpost postcrossing, di situ dituliskan kalau Sean biasanya memasang foto yang diambil oleh anaknya (hm.. Jadi sebenarnya bukan selfie, tapi difotoin) atau berdua dengan anaknya. Ini menjadi sedikit masalah buatku, karena aku belum punya istri apalagi anak yang siap mendukung bakat narsisku (walau sebenarnya gak harus se-detail itu nirunya).

Okelah.. Kalau Sean difotoin anaknya, aku akan melakukan selfie murni. Untungnya aku punya tripod yang aku beli online. Jadi, selfie bisa agak terbantukan.

Selfie pake tripod agak ribet (jadi terpikir untuk beli tongsis), karena harus setting timer kemudian pasang posisi muka yang pas supaya komposisi gambar bisa bagus. Untungnya, kamera poket Nikon L23-ku punya fitur yang cukup membantu untuk selfie. Si Nikon bisa otomatis mengambil foto apabila wajah yang dibidik itu tersenyum. Maka, jadilah foto serem di bawah ini.

Kartu pos dari Belanda (foto diambil dengan timer kamera)
Kartu Pos dari Midle Earth New Zealand (foto diambil dengan timer kamera)

Bukan maksud mau pamer gingsul, tapi si Nikon gak bisa ngambil gambar kalau senyumnya nanggung. Jadi, ya harus senyum a la model sampul majalah remaja tahun 90an gini. Semoga foto-foto yang aku unggah di website postcrossing ini gak bakal bikin postcrosser lain jadi ketakutan, ya. Bisa-bisa gak ada lagi yang mau kirim-kiriman kartu pos dengan orang indonesia. 😆

Gak sengaja pamer gingsul (foto diambil dengan fitur smile recognition)

Nah, begitulah ceritaku mencoba meniru gaya Sean Patrick. Kalau ada uneg-uneg bisa disampaikan lewat komentar. Aku juga bersedia menerima donasi kartu pos kosong maupun writen.. Hihihi..

Baca juga Kartu-kartu Pertamaku.

Diterbitkan oleh

Wahyudi DN

Blogger, Ubuntu Enthusiast, Movie Goer, Hampir Ganteng | Email: iyud@dnwahyudi.com

14 thoughts on “Meniru Sean Patrick”

  1. Wah saya sih ga berani alias malu-malu kalau display foto di gallery Postcrossing kaya gitu :’>
    Anyway, salam kenal n selamat teracuni oleh postcrossing kaya saya 😀

  2. Disini susah nyari kartu post, kayaknya kudu bikin sendiri nih. Entah kapan….

    *kok rada-rada gak fokus baca postingan gini ya, serasa horor gitu wkwkwk*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.