Pendidikan Dasar Berujung Maut(???)

Dalam beberapa hari terakhir, berita media elektronik dan daring ramai dengan pemberitaan tentang tewasnya tiga mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) yang mengikuti Pendidikan Dasar (Diksar) Mapala (Mahasiswa Pencinta Alam). Ketiga mahasiswa tersebut diduga tewas karena kekerasan yang dilakukan saat mengikuti Diksar Mapala UII.

Foto dari sini >> Klik

Peribahasa mengatakan: seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi kita terkejut dan merasa geram dengan kejadian ini, namun di sisi lain kita tidak merasa heran dengan kejadian seperti ini. Kekerasana berujung maut yang berdalih bagian dari pendidikan sudah beberapa kali terjadi di Indonesia.

Ngomong-ngomong soal kekerasan dalam dunia pendidikan, jadi ingat pengalaman waktu sekolah dulu. Jadi, di sekolah saya dulu selalu ada masa orientasi siswa untuk siswa baru. Dalam pelaksanaan orientasi tersebut selalu terjadi kekerasan verbal (walau gak main fisik, tetap aja kekerasan, kan ya..).

Panitia senior yang disebut tim PD (Penegak Disiplin) akan datang ke kelas pada suatu hari saat masa orientasi siswa. Mereka akan “mencari-cari” kesalahan siswa baru. Di situ, kadang saya merasa sedih mereka akan melakukan ‘penegakan kedisiplinana’ dengan cara mebentak-bentak kita.

Saya dulu juga termasuk korban tindakan itu, tapi syukurlah ada sedikit obat psikis karena saya berhasil nabok muka salah satu anggota Tim PD (cerita detailnya mungkin akan saya tulis di lain kesempatan).

Kalau saya tidak salah ingat, pada tahun 2007 ada siswa baru yang berani membawa masalah ini keluar. Dia diwawancari koran dan menyebutkan hal-hal tentang tim PD. Walaupun gak sempat bikin heboh, tapi (sepertinya) hal ini sempat membuat guru-guru pembina OSIS ketar-ketir.. Hehe..

Tidak jauh berbeda dengan masa SMA, waktu masuk perguruan tinggi aku juga mengalami bullying dengan legitimasi perkenalan institusi. Dibentak-bentak, disuruh ini itu dan lainnya. Untungnya hal yang aku alami masih dalam batas kewajaran.

Lain lagi cerita teman saya yang berkuliah di salah satu Perguruan Tinggi di Kota Surabaya. Di kampusnya, teman saya ini mengalami satu tahun penuh bullying oleh kakak tingkatnya. Detail peristiwanya tidak banyak dia ceritakan, mungkin dia merasa sudah ternoda menganggap hal yang dialaminya masih dalam batas kewajaran. Satu hal yang dia ceritakan cuma disuuruh menyebrang danau kampus bersama teman sekelompoknya sambil menggotong seorang temannya yang lain yang harus dijamin kebersihannya.

Nah, itu dia sedikit pengalaman saya tentang kekerasan dan bullying di dunia pendidikan. Jika berkenan, pembaca sekalian bisa membagikan cerita pengalaman melalui kolom komentar. 😁

About the author: Dwi Nur Wahyudi

Blogger, Ubuntu Enthusiast, Movie Goer, Pendekar Akademik, Hampir Ganteng, Calon Imam Rumah Tanggamu, Menantu Idaman Mamamu | Email: iyud@dnwahyudi.com

Related Posts

6 Comments

  1. kekerasan verbal saat jadi mrid baru juga bikin aku takut setengah mati lho
    nggak usah ada deh acara seperti itu
    mungkin bisa dipikirkan cara lain yang lebih bermanfaat

  2. Saya nggak suka dengan yang namanya plonco. Itu pembodohan. Dulu jaman sma dan kuliah saya mangkir dari ospek. Dan ga ada pengaruhnya ke aktivitas akademis saya setelahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE