Jembatan Martadipura

Dalam rangka silaturahim dan liburan lebaran yang lalu, kami sekeluarga berknjung ke kampung halaman ibuku di Kota Bangun, Kutai Kartanegara.

Sebenarnya, kalau bisa disuruh memilih aku akan memilih untuk tetap di rumah. Aku lebih senang tidur atau melanjutkan bersepeda.. Hehehe…

Jadi, yang lagi nge-hits di sana adalah jemabtan yang baru saja diresmikan. Jembatan ini bernama Jembatan Martadipura. Konon katanya, jembatan ini adalah jembatan terpanjang di Indonesia saat ini (data???).

Sebenarnya, rentang utama jembatan ini terbilang biasa saja, tidak terlalu panjang. Yang panjang adalah jalan yang menghubungkan jembatan ini menuju ke pemukiman warga. Kemungkinan karena kondisi tanah yang berupa rawa-rawa, membuat pembangun jembatan lebih memilih untuk memperpanjang rentang jembatan sampai ke darat daripada untuk membangun jalan raya.

Dari beberapa orang bercerita tentang jembatan ini, aku mendapat info bahwa panjang jembatan ini mencapai 17km. Setelah aku ukur menggunakan odometer di dashboard mobil ternyata panjangnya sekitar 13km. Mungkin orang lain mengukurnya saat panas, jadi jembatannya memuai.. Hahaha…

Di bawah ini ada video dari kamera dashboard yang aku unggah ke youtube. Silakan dilihat kalau berkenan.. 😀

u

Beruang Pijar: Riwayatmu Kini

Setiap kali menemukan bangunan rusak, ibuku selalu berkomentar bahwa orang Indonesia sudah pintar membangun, tapi kurang pintar merawat. Kalau dipikir-pikir, pernyataan itu sering ada benarnya juga.

Jadi, beberapa hari yang lalu aku pergi ke pasar pagi untuk membeli sesuatu. Di perjalanan pulang, aku singgah di taman tepian, lebih tepatnya di depan kantor gubernur kalimantan timur untuk membeli es dawet. Di taman tepian, terdapat beberapa buah lampion yang menghiasi taman. Sayangnya kondisinya sudah sangat buruk. Bukannya memperindah tampilan taman, lampion itu kini nampak seperti sampah yang memperburuk wajah taman.

Sedikit mengingat sejarah lampion ini. Lampion ini dulu mendapat kritik di media sosial karena saat pembangunannya Samarinda tengah menghadapi banjir di beberapa wilayah.

Nasib hampir serupa juga dialami Taman Teluk Lerong yang berlokasi tidak jauh dari taman di depan kantor gubernur ini. Bahkan taman Teluk Lerong sempat menjadi sorotan media cetak lokal (klik prokal).

Sekarang, satu-satunya taman lampion yang masih terawat adalah Mahakam Lampion Garden yang terletak di jalan Slamet Riyadi. Menurutku, taman itu akan bernasib lebih baik karena di sana ada penjaganya dan pengunjung juga dikenai tarif untuk dapat masuk ke lokasi taman.

Makan di Food Festival

Akhir bulan April sampai dengan awal bulan Mei ini, di Mall Lembuswana, Samarinda diadakan gelaran jajanan rakyat. Lembuswana Food Festival ini adalah gelaran yang kedua setelah beberapa minggu sebelumnya juga diadakan di tempat yang sama.

Sekitar seminggu sebelumnya, di mall sebelah juga diadakan acara yang mirip bernama Samarinda Mega Food Festival. Entah karena persaingan antar mall, atau memang atensi masyarakat yang sangat besar sehingga beberapa acara serupa diadakan dalam waktu yang sangat dekat.

Pengunjung sempat panik saat gerimis

Seingatku, dalam tahun ini secara total sudah ada tiga acara semacam ini di Samarinda. Walau sudah ada tiga acara, aku baru sempat datang ke acara yang di Lembuswana akhir bulan lalu. Aktivitasku yang sangat sibuk dalam mengurusi nasib bangsa ini yang sangat menghambatku jalan-jalan. 😎

Jualannya Mail.. Seketul 2 ringgit…!

Aku melihat hal ini sebagai sesuatu yang positif bagi pariwisata di Samarinda mengingat tidak ada obyek wisata yang tergolong kelas “super” di Samarinda. Wisata alam dan budaya etnik memang ada di Samarinda, tetapi kalah telak dibandingkan dengan obyek wisata yang ada di daerah lain sekitar Samarinda.

Lumayan asik karena gak begitu padat pengunjung.

Karena wisata alam dan etnik tidak bisa diandalkan, mungkin dinas pariwisata perlu memperbanyak acara yang sifatnya pop culture seperti food festival ini. Semoga saja bukan hanya wisatawan lokal yang datang, tapi juga wisatawan dari daerah atau bahkan mancanegara.

Juga menjadi harapan terbesarku adalah; dinas pariwisata kota Samarinda dan Provinsi Kalimantan Timur mau menggunakan jasa blogger sepertiku untuk mempromosikan acara-acara pariwisata yang mereka adakan… Kalau jasaku dipakai, kan lumayan duitnya ditabung demi masa depan, sehingga aku bisa ikut melestarikan spesies manusia di muka bumi ini. Hihihi… 😀

Ulang Tahun Samarinda!!!

Walau secara administratif aku adalah warga Kutai Kartanegara, namun secara sosio-kultural aku menganggap diriku sebagai warga Samarinda. Gimana enggak, hampir sejak lahir sampai resmi jadi pengangguran aku beraktivitas di Samarinda.

Jadi sebagai warga Samarinda sosio-kultural, aku seperti warga Samarinda administratif juga ingin mengucapkan selamat Ulang Tahun kepada (pemerintah) Kota Samarinda.. :mrgreen:

Saat di SMP dulu, di mata pelajaran komputer, kami pernah diberi artikel untuk diketik ulang. Artikel itu menceritakan sejarah singkat kota Samarinda. Dari artikel itu aku jadi tahu kalau ulang tahun Samarinda dirayakan pada tanggal 21 Januari, walau sebenarnya 21 Januari adalah ulang tahun Pemerintah Kota Samarinda.

Selain dari artikel pelajaran komputer, Ulang Tahun Kota Samarinda juga mudah diingat olehku karena dulu, Ulang Tahun Kota Samarinda dirayakan dengan pawai. Aku sebagai salah satu anggota Drum Band SMP Negeri 1 Samarinda, dua kali berturut-turut mengikuti pawai tersebut. Sayangnya, sekarang sudah tidak ada pawai lagi saat Ulang Tahun Kota Samarinda.

Gambar dari wikipedia (klik!)

Akhir kata, Selamat Ulang Tahun (Pemerintah) Kota Samarinda. Semoga Samarinda semakin menjadi kota yang TEPIAN… 😀

4G Sudah Ada di Samarinda(???)

Seingatku, sudah dua kali ini, layanan operator seluler yang aku gunakan bermasalah setiap akhir pekan. Entah karena kualitasnya memang jelek atau karena ada maintenance.

Kejadian ini membuat aku berpikir, mungkinkah sedang ada maintenance karena sang operator sedang menyiapkan infrastruktur 4G di Samarinda? Hal tersebut tidaklah mustahil mengingat kota tetangga sudah terlebih dahulu menikmati layanan 4G.

Kota tetangga memang bikin iri banget, tapi memang gak heran kalau apa-apa pasti ada duluan di sana. Statusnya sebagai kota ekonomi membuat perusahaan-perusahaan swasta lebih memilih kota tetangga sebagai prioritas area pelayanannya. Selain itu, kota tetangga juga merupakan pintu gerbang provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Hal ini sangat berbeda dengan Samarinda yang punya status sebagai kota pemerintahan, apalagi beberapa industri di Samarinda mulai menyusut.

Sebenarnya, pilihan operator untuk menomor-dua-kan kota Samarinda dibanding kota tetangga dalam hal pelayanan jaringan 4G sangat disayangkan. Selain sebagai kota pemerintahan, Samarinda juga dikenal sebagai kota pendidikan. Universitas negeri di Kalimantan Timur pusatnya ada di Samarinda, ditambah lagi beberapa perguruan tinggi baik swasta maupun negeri.

Cakupan 4g SamarindaSamarinda 4g Coverage
Gambar dari sini

Perguruan tinggi yang sebagian besar isinya adalah anak muda dan alay telat tobat tentu merupakan pasar potensial bagi para operator untuk menjerumuskan mereka menjadi pelanggan. Anehnya, hal ini seperti tidak disadari oleh para operator yang justru memilih kota tetangga.

Semoga saja jaringan 4G segera ada di Samarinda… :mrgreen:




Jalan Ke Tenggarong (III): Ladaya



Ini, nih.. Objek wisata yang lagi naik daun banget di Tenggarong, Kutai Kartanegara. Namanya Ladaya, singkatan dari Ladang Budaya. Popularitas tempat wisata yang satu ini lumayan melejit, bahakan menurutku udah ngalahin Creative Park yang dibangun oleh Pemerintah Kabupaten (yang ini pendapat sok tahu).

Ladaya yang terletak tidak jauh dari pusat kota, bisa dijangkau dengan mudah dengan kendaraan pribadi. Aku tidak tahu, apakah ada kendaraan umum yang menuju ke sana atau tidak. Yang pasti, aku tidak menemukan kendaraan umum waktu berkunjung ke Ladaya hari Minggu lalu.

Bisa dibilang, hal yang ada di situ udah umum kalau dibandingkan dengan objek wisata lain. Di Ladaya ada taman, kafetaria, tempat bermain flying fox, paint ball dan lainnya. Selain arena bermain, di Ladaya juga ada cottage untuk tempat beristirahat.

Mungkin, kepopuleran tempat ini karena Ladaya masih sangat baru. Namun tidak menutup kemungkinan Ladaya bisa menjadi lebih populer kalau pengleola mampu merawat dan menjalankan tempat itu dengan baik.

Bagi teman-teman yang mau ke Ladaya, sila gunakan smartphone kamu untuk mencari lokasinya. 🙂

Klik di sini untuk melihat alamat lengkap Ladaya