Jembatan Martadipura

Dalam rangka silaturahim dan liburan lebaran yang lalu, kami sekeluarga berknjung ke kampung halaman ibuku di Kota Bangun, Kutai Kartanegara.

Sebenarnya, kalau bisa disuruh memilih aku akan memilih untuk tetap di rumah. Aku lebih senang tidur atau melanjutkan bersepeda.. Hehehe…

Jadi, yang lagi nge-hits di sana adalah jemabtan yang baru saja diresmikan. Jembatan ini bernama Jembatan Martadipura. Konon katanya, jembatan ini adalah jembatan terpanjang di Indonesia saat ini (data???).

Sebenarnya, rentang utama jembatan ini terbilang biasa saja, tidak terlalu panjang. Yang panjang adalah jalan yang menghubungkan jembatan ini menuju ke pemukiman warga. Kemungkinan karena kondisi tanah yang berupa rawa-rawa, membuat pembangun jembatan lebih memilih untuk memperpanjang rentang jembatan sampai ke darat daripada untuk membangun jalan raya.

Dari beberapa orang bercerita tentang jembatan ini, aku mendapat info bahwa panjang jembatan ini mencapai 17km. Setelah aku ukur menggunakan odometer di dashboard mobil ternyata panjangnya sekitar 13km. Mungkin orang lain mengukurnya saat panas, jadi jembatannya memuai.. Hahaha…

Di bawah ini ada video dari kamera dashboard yang aku unggah ke youtube. Silakan dilihat kalau berkenan.. 😀

u

Makan di Food Festival

Akhir bulan April sampai dengan awal bulan Mei ini, di Mall Lembuswana, Samarinda diadakan gelaran jajanan rakyat. Lembuswana Food Festival ini adalah gelaran yang kedua setelah beberapa minggu sebelumnya juga diadakan di tempat yang sama.

Sekitar seminggu sebelumnya, di mall sebelah juga diadakan acara yang mirip bernama Samarinda Mega Food Festival. Entah karena persaingan antar mall, atau memang atensi masyarakat yang sangat besar sehingga beberapa acara serupa diadakan dalam waktu yang sangat dekat.

Pengunjung sempat panik saat gerimis

Seingatku, dalam tahun ini secara total sudah ada tiga acara semacam ini di Samarinda. Walau sudah ada tiga acara, aku baru sempat datang ke acara yang di Lembuswana akhir bulan lalu. Aktivitasku yang sangat sibuk dalam mengurusi nasib bangsa ini yang sangat menghambatku jalan-jalan. 😎

Jualannya Mail.. Seketul 2 ringgit…!

Aku melihat hal ini sebagai sesuatu yang positif bagi pariwisata di Samarinda mengingat tidak ada obyek wisata yang tergolong kelas “super” di Samarinda. Wisata alam dan budaya etnik memang ada di Samarinda, tetapi kalah telak dibandingkan dengan obyek wisata yang ada di daerah lain sekitar Samarinda.

Lumayan asik karena gak begitu padat pengunjung.

Karena wisata alam dan etnik tidak bisa diandalkan, mungkin dinas pariwisata perlu memperbanyak acara yang sifatnya pop culture seperti food festival ini. Semoga saja bukan hanya wisatawan lokal yang datang, tapi juga wisatawan dari daerah atau bahkan mancanegara.

Juga menjadi harapan terbesarku adalah; dinas pariwisata kota Samarinda dan Provinsi Kalimantan Timur mau menggunakan jasa blogger sepertiku untuk mempromosikan acara-acara pariwisata yang mereka adakan… Kalau jasaku dipakai, kan lumayan duitnya ditabung demi masa depan, sehingga aku bisa ikut melestarikan spesies manusia di muka bumi ini. Hihihi… 😀

Mohon Maaf…



Walau sudah semakin jarang nge-post, blog ini setiap hari masih aku kunjungi untuk memantau perkembangannya. Kali aja pengunjungnya jadi semakin melonjak karena posting tentang Astramatika ataupun tentang Ladaya Tenggarong seperti beberapa minggu yang lalu.

Selain dipantau perkembangannya, login juga sering aku lakukan untu maintenance kecil-kecilan seperti update plugin, hapus cache atau buang komentar spam. Maintenance kecil-kecilan lumayan meringankan database. :mrgreen:

Ngomong-ngomong soal buang komentar spam, beberapa hari yang lalu aku tidak sengaja menghapus komentar yang bukan spam. Karena komentar yang jualan viagra & cialis 😯 banyak banget, secara membabi-buta aku ngeklik “delete permanently” tanpa melihat secara utuh apa dan dari siapa komentar-komentar itu. Tepat saat komentar yang dimoderasi tersisia dua buah, sekilas aku melihat bahwa komentar itu berbahasa Indonesia (tidak seperti komentar spam yang berbahasa Inggris atau isinya cuma link). Duh, jadi nyesel ngklik sambil melamun.. 🙁 😥

Jadi, dengan pos ini aku ingin menyampaikan permohonan maaf kepada siapapun yang menuliskan komentar, tapi komentarnya tidak muncul. Bukannya sengaja menghapus komentar Anda, tapi keadaan ppsikologis yang membuat saya jadi salah pencet. Mohon maaf ya… 😀 Jangan bosan untuk berkunjung dan berkomentar di blog saya yang sederhana ini…

Gambar ambil dari sini

Ulang Tahun Samarinda!!!

Walau secara administratif aku adalah warga Kutai Kartanegara, namun secara sosio-kultural aku menganggap diriku sebagai warga Samarinda. Gimana enggak, hampir sejak lahir sampai resmi jadi pengangguran aku beraktivitas di Samarinda.

Jadi sebagai warga Samarinda sosio-kultural, aku seperti warga Samarinda administratif juga ingin mengucapkan selamat Ulang Tahun kepada (pemerintah) Kota Samarinda.. :mrgreen:

Saat di SMP dulu, di mata pelajaran komputer, kami pernah diberi artikel untuk diketik ulang. Artikel itu menceritakan sejarah singkat kota Samarinda. Dari artikel itu aku jadi tahu kalau ulang tahun Samarinda dirayakan pada tanggal 21 Januari, walau sebenarnya 21 Januari adalah ulang tahun Pemerintah Kota Samarinda.

Selain dari artikel pelajaran komputer, Ulang Tahun Kota Samarinda juga mudah diingat olehku karena dulu, Ulang Tahun Kota Samarinda dirayakan dengan pawai. Aku sebagai salah satu anggota Drum Band SMP Negeri 1 Samarinda, dua kali berturut-turut mengikuti pawai tersebut. Sayangnya, sekarang sudah tidak ada pawai lagi saat Ulang Tahun Kota Samarinda.

Gambar dari wikipedia (klik!)

Akhir kata, Selamat Ulang Tahun (Pemerintah) Kota Samarinda. Semoga Samarinda semakin menjadi kota yang TEPIAN… 😀

Journal Tour (4): Belanja

Travelling rasanya benar-benar hambar kalau tidak disertai dengan belanja. Sayangnya, karena aku kurang berpengalaman dalam travelling, akhirnya aku kurang mempersiapkan diri untuk urusan belanja-belanja ini.

Pagi pertama di Jakarta, Jumat 20 Februari 2015 kegiatan kami diawali dengan sarapan di hotel. Setelah sarapan, rombongan langsung menuju bus untuk bersama-sama mengunjungi Pasar Tanah Abang.

Pasar Tanah Abang yang konon katanya adalah pasar grosir konveksi terbesar diAsia Tenggara memang benar-benar sangat besar. Karena perhatianku teralihkan oleh lingkungan sekitar (macet, gedung-gedung, orang-orang) aku jadi kurang memperhatikan besarnya gedung Pasar Tanah Abang Blok A ini.

Besarnya gedung Blok A ini baru terasa ketika kita berada di dalamnya. Kalau aku tidak salah hitung, gedung ini terdiri dari tujuh belas lantai. Lanjutkan membaca Journal Tour (4): Belanja