Found-footage Movie

Hand held point of view, mungkin kata ini sangat jarang kita dengar, tapi bagi videography expert pasti udah sering berkecimpung dengan kata yang satu ini.

Kalau diartikan (dengan seenak udel saya), mungkin kurang lebih artinya sudut pandang genggaman tangan. Apa yang digenggam? Tentu saja kamera buat merekam gambarnya.

Jadi, dengan hand held point of view, suatu gambar video diambil dengan kamera yang hanya digenggam dengan tangan (gak pake tripod ataupun alat bantuan apapun yang saya sendiri juga gak ngerti namanya apa aja).

Muncul pertanyaan kalau kameranya cuma digenggam, apa gambarnnya gak goyang-goyang Harlem Shake? Tentu saja.

Di mana asiknya nonton film yang kayak gitu? Jujur saja, kalau saya sendiri sih, lumayan sakit mata dan sakit leher saat menonton beberapa film yang gambarnya diambil dengan teknik ini, tapi di situlah seninya. Dalam film yang diambil dengan teknik ini, kamera bukan hanya “berperan” di belakang layar. Kamera justru dianggap sebagai bagian dari realita yang terjadi pada alur cerita film.

Kita ambil satu contoh. Pasti Anda tahu dong, film Paranormal Activity?!? Di film ini, gambar muncul dari hasil rekaman video milik tokoh dalam film, atau kamera CCTV yang ada di rumah. Jadi, keberadaan kamera di sini benar-benar ditunjukkan sebagai bagian dari cerita.

Entah sejak kapan teknik hand held point of view diterapkan pada film fiksi. Yang pasti, teknik ini telah melahirkan suatu genre film baru yang disebut found-footage movie. Biasanya, film jenis ini adalah film horor.

Found-footeage movie biasanya menceritakan video yang ditemukan sebagai jejak dari tokoh protagonis yang hilang atau meninggal di cerita film.

Selain teknik hand held point of view, pada found-footage movie juga sering muncul gambar yang diambil menggunakan sudut pandang kamera CCTV atau bahkan webcam laptop. The Fourth Kind dan Paranormal Activity adalah beberapa contoh film yang gambaranya tidak hanya dari hand-held camera.

Beberapa film genre found-footage movie yang terkenal antara lain adalah Cannibal holocaust (1980), Blair Witch project (1999), Paranormal Activity (1-4), Cloverfield (2008) dan Chronicle (2012).

Di Indonesia, (setahu saya) ada satu film yang tergolong dalam genre ini. Film yang saya maksud adalah film Keramat.

Film Keramat menceritakan kisah behind the scene dari sebuah produksi film. Film ini mengaitkan dunia mistis dengan kejadian gempa bumi yang terjadi di pulau Jawa.

Film Keramat dirilis tahun 2009. Mungkin, penulisnya terinspirasi dari kesuksesan film Cloverfield (2008). Saya menyangka begitu karena waktu di Indonesia belum ada film bergenre ini.

Ada kejadian sedikit unik yang saya alami soal film Keramat ini. Dulu di lab kampus, beberapa adek tingkat menonton film ini. Dari perbincangan mereka, saya menangkap bahwa mereka menyangka film ini adalah kisah nyata. Rasanya pengen ketawa dan menjelaskan kalau ini adalah film bergenre found-footage, tapi ga jadi.

Bagaimana dengan teman-teman semua? Pernah nonton salah satu film bergenre found-footage?

Lanjutkan membaca Found-footage Movie

Selamat Hari Raya Idul Adha

Selamat Hari Raya Idul Adha untuk teman-teman semua..
Semoga kita diberikan ketaatan dan kesabaran seperti Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS.

Jadi, bagaimana dengan lebaran haji teman-teman sekalian? Adakah cerita menarik?

Kalau ngomongin lebaran haji atau lebaran qurban, jadi ingat suasana lebaran haji tahun lalu.

Lebaran haji tahun lalu, Si Gundul bawa daging jatah kurban yang dia dapat ke rumahku. Di rumah, kami bikin sate. Cerita selengkapnya bisa baca di sini deh (klik dong).

Di bawah ini aku kasih satu fotonya..

Tukang Sate dadakan
Tuh Si Gundul (bukan nama sebenarnya)

Kalau tahun ini sepertinya belum ada kejelasan apakah bisa bikin sate lagi atau gak. Semoga saja… 😀