Sumpah, Ini Gak Sengaja

Ada saatnya aku kangen banget sama teman-teman dan juga suasana waktu KKN dulu. 😈 Biasanya kalau lagi kangen aku hubungin mereka lewat sms atu socmed. Kalau mereka lagi sibuk dan gak bisa dihubungi, terpaksa kangen-kangenannya sendiri aja :music: dibantu dengan foto-foto dokumentasi kita dulu.

Nah.. Kira-kira setahun lalu, aku buka-buka arsip foto dokumen KKN kami. Di situ aku menemukan salah satu foto yang lumayan unik. Di foto itu, terlihat ketua kelompok kami, Gilang sedang bermain-main dengan hewan peliharaan warga setempat. Foto ini aku sendiri yang mengambilnya, lho…!

Waktu itu, kami sedang berisitrahat di tengah tugas kami membagikan bubuk abate kepada warga. Medannya memang sangat menantang, wilayah Kelurahan Sidodamai banyak yang berupa bukit.

Di salah satu rumah warga, ada seekor monyet yang merupakan peliharaan warga. Saat Gilang menjulurkan tangannya, si monyet membalasnya. Mungkin si monyet mengira kalau Gilang akan memberikan makanan. Sepertinya monyet itu sudah sering berinteraksi dengan warga, jadi dia udah jinak banget.

agak mirip, sih

Setelah lebih dari setahun aku baru sadar kalau pose mereka berdua mirip dengan lukisan yang sangat terkenal. Lukisan yang ada di langit-langet Kapel Sistina (Sistine Chapel) di Vatikan.

Awalnya aku agak ragu 🙄 mau nge-pos foto ini karena lukisan di atasnya itu identik dengan tempat suci agama. Jadi, mohon maaf kalau di antara teman-teman pembaca sekalian ada yang gak suka. Foto ini bukan bermaksud apa-apa, cuma mau menunjukkan kebetulan yang lumayan unik. 🙂

Silahkan berkomentar, dan jempol facebooknya gak akan ditolak..

Kecelakaan Jumat Pagi

Malam Jumat kemarin, aku bersama seorang temanku begadang di kampus untuk numpang wifi gratisan. Rencananya sih, yang begadang itu ada tiga orang, tapi yang satu lagi berhalangan karena harus cucian baju. Kenapa malam Jumat? Bukan karena sambil ngepet, tapi karena hari Jumat-nya libur.

Singkat cerita, sekitar pukul 03.00 lewat (lewatnya berapa menit aku udah lupa) kami memutuskan untuk pulang. Maka, berangkatlah kami untuk pulang. Karena udah malam, seperti biasa smua pintu gerbang di kampus udah ditutup sama petugas keamanan. Satu-satunya jalan keluar dari kampus adalah jalan tembus ke arah jalan Ruhui Rahayu. Mau gak mau kami ya terpaksa lewat situ.

Melewati wilayah sekolah-sekolah Yayasan Sumber Mas pagi-pagi buta itu lumayan bikin jantung dangdutan, soalnya kalo malam di situ gelap banget.

Di pertengahan Jalan Ruhui Rahayu, tiba-tiba ada sesosok yang muncul di kegelapan mencoba menghentikan motorku. Sosok tinggi, kurus, tampak lemes dan berdarah-darah itu hampir aja aku tabrak seandainya dia gak bilang, “Om.. tolong Om saya habis jatuh..”

Aku sempat mengira dia itu orang gila atau orang yang berusaha berniat jahat. Karena dia sudah mengungkapkan jati dirinya, aku gak ragu untuk berhenti dan menolongnya.

“Kamu jatuh di mana?” tanyaku.

“Di situ, Mas,” jawabnya.

Aku agak kebingungan melihat ke arah mana sebenarnya dia menunjuk, karena aku tidak melihat sama sekali ada motor di jalan yang dia tunjuk. Setelah jalan beberapa meter, aku baru tahu kalau dia  dan motornya jatuh ke dalam selokan. Remaja itu jatuh di selokan pinggir jalan yang dalamnya mungkin hampir tiga meter.


Gak lama kemudian, datanglah tiga orang yang berboncengan di atas satu motor melintas. Mereka sempat singgah sebentar, tapi sepertinya mereka buru-buru. Aku bilang aja kalau mereka ketemu orang didepan, tolong beri tahu kalau ada kecelakaan di sini.

Beberapa menit kemudian, datanglah dua orang pemuda yang ikut membantu kami menaikkan  motor si korban. Kalau berdua aja, mungkin sampai siang baru bisa keangkat itu motor.

Setelah motor terangkat, aku pinjamkan telepon selulerku kepada korban. Ia langsung menghubungi beberapa temannya untuk datang menjumputnya.

Waktu aku lihat keadaan motornya sebelum diangkat, yang muncul di kepalaku adalah “Kok bisa??”. Setelah ngobrol-ngobrol dengan dua pemuda yang datang belakangan, aku baru tahu ternyata si korban ini tadinya di kejar polisi. Sepertinya, dia sengaja mematikan lampu depan dan terus melaju. Dia gak sadarkalu ditikungan itu ada selokan yang lumayan dalam.

Nah, bagi teman-teman yang sering berkendara, terutama kendaraan roda dua sebaiknya semakin berhati-hati. Kecelakaan seperti yang dialami oleh bocah ini terjadi karena kesalahannya sendiri. Banyak kasus-kasus keclakaan seperti ini, tapi tidak sedikit pula kecelakaan yang terjadi di mana yang menjadi korban bukanlah yang membuat kesalahan.

Semoga tidak terjadi kecelakaan lalu lintas di Indonesai.. Amin..

tkp2

Jalan Tembus Aminah Syukur

Jalan Tembus Aminah Syukur – Jalan Aminah Syukur kota Samarinda adalah salah satu jalan yang berada di tempat yang bisa disebut daerah sibuk di kota Samarinda. Jalan ini terdapat di wilayah Kecamata Samarinda Ilir.

Jalan Aminah Syukur menghubungkan Jalan Arief Rahman Hakim di sisi utaranya, dan Jalan Pangeran Hidayatullah di sisi selatan. Jalan Cut Meutia juga merupakan jalan tembus ke Jalan Aminah Syukur.

Bagi yang bersekolah di SMP 34 Samarinda atau SMK 7 Samarinda pasti tahu betul seluk beluk Jalan Aminah Syukur. Bagi yang sering nongkrong di SCP atau Aston Samarinda Hotel & Convention Center juga pasti tahu Jalan Aminah Syukur.

Selain SMP 34 Samarinda dana SMK 7 Samarinda, juga ada SD Negeri 16 Samarinda Ilir di Jalan Aminah syukur. Beberapa toko juga ada di Jalan Aminah Syukur. Kalau saya tidak salah ingat, juga ada sebuah cafe di Jalan Aminah Syukur.

Selain jalan-jalan yang disebutkan sebelumnya, Jalan Aminah Syukur juga terhubung dengan beberapa gang.  Gang 3, Gang 4, Gang 5, Gang 5A, Gang 6, Gang 7, Gang 8, Gang 9, Gang 10 dan Gang 11 merupakan jalan tembus Aminah Syukur. Semua gang tersebut menghubungkan Jalan Aminah Syukur dengan Jalan Muso Salim.

Jalan Aminah Syukur adalah jalan satu arah. Kendaraan hanya diperkenankan melintasi Jalan Aminah Syukur dari utara ke selatan. Hal tersebut disebabkan padatnya arus lalu lintas di Jalan Aminah Syukur dan juga di jalan-jalan sekitarnya.

Setiap harinya dari pagi hingga malam hari, Jalan Aminah Syukur sangat ramai kendaraan. Ramainya kendaraan yang melintasi Jalan Aminah Syukur karena jalan ini terletak di daerah pusat kegiatan ekonomi kota Samarinda.

Apabila hendak mengunjungi SCP, saya sendiri lebih memilih rute yang melalui Jalan Aminah Syukur daripada rute lain. Rute lainnya, seperti rute yang melalui Jalan Diponegoro atau Jalan Mulawarman biasanya sangat pada dengan kendaraan.

Di bawah ini saya sertakan foto yang memuat lokasi Jalan Aminah Syukur Samarinda. Foto ini saya ambil dari Google Maps.

aminah syukur

Pelatihan Vertikultur dan Tabulampot

Hari minggu yang lalu, aku diajak teman untuk mengikuti paltihan budidaya buah dan sayur dengan teknik vertikultur dan tabulampot. Acara pelatihan ini diselenggarakan olah Rumah Zakat di lingkungan rumah dinas Wali Kota Samarinda.

Di dalam ruang itu dipajang foto-foto Walikota Samarinda dari yang pertama sampai yang sekarang. Aku gak hapal siapa aja beliau beliau… 😳

 Acara dibuka dengan penampilan Galau Voice (sorry kalau salah tulis namanya ya, Om..).

Pembicara pada acara ini adalah Ibu Ratih Wirapuspita, SKM, MPH dan Bapak Agus Supriyono, SP. Pembicara pertama menyampaikan pentingnya gizi seimbang bagi kesehatan kita, dilanjutkan oleh Bapak Agus yang memberikan penjelasan mengenai vertikultur dan tabulampot.


Acara dilanjutkan setelah makan siang dan sholat dzuhur. Pada sesi kedua ini, Pak Agus mem-praktekan cara membuat tabulampot dan teknik vertikultur. Di bawah ini adalah beberapa bahan yang digunakan.

MPK. Salah tulis, harusnya NPK

Nah, ini dia tanaman yang lumayan menarik perhatian peserta. Pohon jeruk pamelo di dalam pot.

Banyak peserta yang antusias mengikuti acara pelatihan in. Kalau aku sih, mencoba untuk fokus dan tetap membuka mata.

Acara belum selesai, tapi aku udah pulang karena ngantuk. Sorry kalau ada yang penasaran bagaimana akhir cerita (Reportase yang aneh).

#bloGodok #01: Masih Malu-malu

Sebuah wadah untuk saling bertukar resep, mengolah bumbu, memasak, dan saling mencicipi blog warga Samarinda telah diselenggarakan di Warung Informatika Etam Kaltim, Dinas Komunikasi dan Informatika Kalimantan Timur sore tadi. Nih, sedikit fotonya…

Belum mulai, peserta sepi

Mungkin karena baru pertemuan pertama, pesertanya masih malu-malu (terutama yang belum punya blog). Aku juga malu-malu sih, padahal kan biasanya gak tahu malu atau malah bikin malu.

Wawan malu-malu difoto

Foto di atas adalah peserta yang aku ajak untuk ikutan di #bloGodok yang pertama ini. Tumben dia ada waktu. Biasanya sibuk shooting sinetron.

Disepakati #bloGodok akan dilaksanakan dua minggu sekali. Nah, bagi blogger Samarinda yang pengen ikutan langsung aja ikut.

Gak sabar #bloGodok #02 yang pastinya bakal lebih seru dari #01 yang masih malu-malu..

😀

Tak Sebebas Merpati


Tak Sebebas Merpati adalah salah satu judul lagu dari Kahitna. Aku gak tahu persisnya lagu ini dari album apa dan nongol dari tahun berapa.

Aku kenal lagu ini dari vcd kumpulan lagu Kahitna yang dibeli sama kakakku. Kakakku sering banget dengerin lagu ini waktu itu, mau gak mau suaranya masuk juga ke kupingku.

Waktu kelas 3 SMP, untuk nilai ujian kami harus bermain musik dan menyanyi. Aku main suling (lupa lagu yang dibawakan apa) dan nyanyi lagu ini. Agak aneh memang lagu seperti ini dinyanyikan anak usia SMP. Usia SMP memang agak nanggung. Gak mungkin juga kalo kita nyanyi lagu Obok-obok-nya Joshua atau Bolo-bolo-nya Tina Toon.

Nah silahkan disimak video klipnya di bawah ini.

Video dari youtube ini kyknya diambil dari vcd karaoke, jadi vokalnya suaranya kecil.